Senin, 14 Oktober 2013

Pemimpin Menurut Budaya


By. Suryana Slamet
Dalam ajaran falsafah nenek moyang kita, (Falsafah ini dijadikan pedoman raja-raja nusantara termasuk oleh Maha Patih Gajah Mada). Secara garis besar, pemimpin harus memiliki Prinsif Astadasa Kottamaning Prabhu yang terdiri dari kaidah tiga dimensi kepemimpinan, yaitu: Spiritual, Moral, dan Manajerial.

I.    Dimensi Spiritual
Seorang pemimpin dituntut memiliki semangat spiritual sebagai benteng moral agar tidak terlena dan semena-mena dalam mengemban amanah kekuasaannya. Benteng moral dan semangat spiritual itu meliputi Tiga Prinsip, yaitu:
  • Wijaya
yaitu pemimpin yang berjiwa tenang, sabar, dan bijaksana serta tidak mudah panik dalam menghadapi berbagai macam persoalan.
  • Masihi Samasta Bhuwana
Pemimpin yang mencintai sesama manusia dengan bertindak sebagai pelayan yang mengayomi dan melindungi rakyatnya jangan sampai rakyat menderita, kelaparan, kesusahan dan sebagainya serupa itu, sementara dirinya dan para elit hidup dalam kemewahan. Pemimpin juga menjaga dan mencintai alam semesta dengan melestarikan lingkungan hidup sebagai karunia Allah SWT dan mengelola sumber daya alam dengan sebaik-baiknya demi kesejahteraan masyarakat.
  • Prasaja
Pemimpin yang berpola hidup sederhana tidak aji mumpung dengan menggunakan kekuasaannya untuk menumpuk kekayaan sementara  rakyatnya masih banyak di bawah garis kemiskinan.

II. Dimensi Moral
Pemimpin yang adil dan berwibawa juga harus memiliki Enam Prinsif Kepemimpinan, yaitu:
  • Mantriwira
Yaitu pemimpin yang berani membela dan menegakkan kebenaran dan keadilan tanpa terpengaruh oleh pihak manapun.
  • Sarjawa Upasama
Rendah hati, tidak boleh sombong dan congkak dengan menyalahgunakan kekuasaannya.
  • Tan Satresna
Tidak boleh pilih kasih terhadap salah satu golongan, tetapi harus mampu mengatasi segala paham golongan. Sehingga dengan demikian akan mampu mempersatukan seluruh elemen potensi masyarakatnya, untuk mensukseskan cita-cita bersama.
  • Sumantri
Tegas, jujur, bersih dan berwibawa.
  • Sih Samasta Bhuwana
Dicintai segenap lapisan masyarakat dan sebaliknya pemimpin yang mencintai rakyatnya.
  • Nagara Gineng Pratijna
Pemimpin yang senantiasa mengutamakan kepentingan negara, dan masyarakatnya daripada kepentingan pribadi, golongan, maupun keluarganya.

III.       Dimensi Manajerial
Seorang pemimpin juga harus memiliki Sembilan Prinsip Manajerial, kesembilan prinsif itu adalah:

  • Natangguan
Yaitu pemimpin yang mendapat kepercayaan dari masyarakat dan berusaha menjaga kepercayaan yang diberikan tersebut sebagai tanggungjawab dan kehormatan.
  • Satya Bhakti Prabu
Memiliki loyalitas kepada kepentingan yang lebih tinggi dan bertindak dengan penuh kesetiaan demi rakyat, nusa dan bangsa.
  • Wagwigwag
Mempunyai kemampuan mengutarakan pendapat, pandai berbicara dengan tutur kata yang tertib dan sopan, serta mampu menggugah semangat masyarakat.
  • Wicaksaneng Naya
Harus pandai berdiplomasi dan pandai mengatur strategi dan siasat.
  • Dhirotsaha
Rajin dan tekun bekerja, memusatkan rasa, cipta, karsa, dan karyanya untuk mengabdi kepada kepentinga umum.
  • Dibyacitra
Lapang dada dan bersedia menerima pendapat orang lain atau bawahannya (akomodatif dan aspiratif). Memiliki sense of responsbility yang tinggi, serta peka terhadap harapan dan keinginan masayarakat.
  • Nayaken Musuh
Menguasai musuh-musuh, baik yang datang dari dalam maupun dari luar, termasuk juga yang ada di dalam dirinya sendiri.
  • Ambek Paramatha
Pandai menentukan prioritas atau mengutamakan hal-hal yang lebih penting bagi kesejahteraan dan kepentingan umum.
  • Waspada Purwatha
Selalu waspada dan mau melakukan mawas diri untuk melakukan perbaikan.

Berdasarkan Kriteria-kriteria di atas, dapat disederhanakan bahwa pemimpin negarawan berdasarkan kaidah Islam dan falsafah nenek moyang adalah, figure pemimpin yang memiliki integritas tinggi, jujur, adil, santun, bersih, berwibawa, tegas, berani, rasional dan objektif. Pemimpin yang mampu meng-aflikasikan konsep spiritual keagamaannya ke dalam bentuk kesalehan social yang nyata. Yakni pemimpin yang memiliki kemampuan mewujudkan Indonesia sejahtera dengan kemampuan sumber daya alam sendiri. Mampu memberi teladan dan mewujudkan masyarakat yang berkualitas serta berakhlak dalam lingkungan sosial budaya yang berbasis religius. Memiliki kemampuan mengenal negerinya (berwawasan Nusantara) dan dikenal serta dekat dengan rakyatnya. Mampu mewujudkan perekonomian masyarakat yang kuat, berdaya saing, dan rasional. Mampu mewujudkan masyarakat yang produktif, nyaman, indah dan lestari. Dapat mewujudkan tata kelola pemerintahan yang mandiri, professional dan akuntable dalam kerangka pembanguan nasional/daerah. Senantiasa berpedoman pada etika berpolitik yang santun, dan menjunjung tinggi norma hukum dan kepatutan sosial yang berlaku. Untuk itu, sebelum kita memilih seorang pemimpin di level manapun, kenali figur calon pemimpin yang akan dipilih berdasarkan landasan kriteria di atas disertai ada tidaknya kesesuaian jejak sejarah (track record) calon pemimpin tersebut dengan kriteria dimaksud. Bukan memilih calon pemimpin yang mendadak dekat dengan rakyat, mendadak peduli dengan rakyat, mendadak dermawan kepada rakyat hanya pada saat ingin dipilih.

Selanjutnya baca.....Pemimpin Menurut Islam

Sumber:
eBook Kado Buat Para Pemimpi-Surat terbuka buat pemimpin dan politisi - Oleh Suryana Slamet

Books About Indonesia

Links luar terkait Pemimpin Budaya
Pengaruh Pemimpin terhadap Budaya Perusahaan

Other books on the Cultural Leaders
Cultural Leader