Jumat, 14 September 2012

Pendidikan Islam Terpadu Bag II

sumber gambar ilmu-pendidikanislam.blogspot.com
Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) Islam adalah sebagai salah satu organisasi  yang mewadahi aktifitas dakwah dan pendidikan, peran dakwah dan pendidikan menjadi satu bagian dari kewajiban intelektual pengurus ormas dalam meresponi tuntutan perubahan di tengah masyarakat yang menjemuk. Untuk memperkokoh aktifitas dakwah dan pendidikan, diperlukan kajian strategik dan menyeluruh. Untuk mencapai sasaran yang efektif refresentatif perlu adanya penafsiran maba’di organisasi yang kontekstual dengan system mengacu pada nilai-nilai profeionalisme secara terpadu dan pada pertimbangan adanya kondisi objektif terhadap tatanan social yang sudah ada, sehingga kebijakan dalam mengambil posisi sebagai bagian dari pelaku dakwah dan pendidikan berada pada segmen, strategi dan system yang tepat.


Sebagai misal dalam merumuskan tujuan, umumnya organisasi yang sudah terbentuk telah memiliki tujuan dan itu ada dalam anggaran dasar organisasi. Berukut salah contoh tujuan organisasi:

“Terwujudnya manusia yang bertauhid dan bertaqwa kepada Allah SWT, bersih dari Syirik, Tahayul dan Khurafat, berakhlak mulia,bertanggungjawab terhadap terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur dalam Negara kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 yang diridloi Allah SWT”. ( Tujuan Al-Irsyad, Anggaran Dasar Bab II Pasal 3)

          Bila rumusan tujuan organisasi dakwah tersebut di atas dirinci, maka  akan didapati unsure-unsur, sebagai berikut:

1.    Adanya upaya menciptakan atau membina ummat ke arah yang utuh yakni yang sesuai dengan nilai dan ajaran Islam yang benar.
2.    Adanya tanggungjawab untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur, sejahtera lahir dan bathin.
3.    Tercermin adanya kehendak untuk bekerjasama di dalam mewujudkan amar ma’ruf nahi munkar dan amal soleh.

Aktualisasi dari tujuan tersebut diperlukan usaha yang sungguh-sungguh dan dimulai oleh para pengurus sebagai bentuk uswah hasanah. Untuk mencapai tujuan di atas, perlu penafsiran ke dalam bentuk tujuan yang lebih konkrit. Karena tujuan di atas bersifat abstrak atau disebut tujuan primer oleh karena sifatnya yang abstrak, ideal dan teoritis. Sedangkan penjabaran yang bersifat konkrit, realistis dan operasional teknis disebut tujuan sekunder. Karena sifatnya yang konkrit, tujuan sekunder dapat diukur atau dinyatakan secara kualitatif dan kuantitatif.
Begitu juga sebelum memasuki tahap implementasi, untuk lebih operasional diperlukan adanya kesamaan persepsi dari semua pengurus sesuai dengan fungsi tugas dan tanggung jawab masing-masing. Baik kesamaan persepsi pada tingkat filosofis maupun kesepakatan pada tingkat operasional teknis.
Sebagai sumbangan pemikiran berikut ini secara umum beberapa ketentuan syarat profesionalisme sebuah organisasi:

1.           Persamaan Persepsi
Bahwa organisasi merupakan wadah dan struktur yang terwujud dalam  proses kegiatan kelompok orang yang bekerjasama dalam administrasi manajemen atas dasar hubungan rasional formal dan terbuka menurut tatanan hirarki untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Untuk tahap aplikasi diperlukan proses-proses organisasi berupa proses kerja organisasi yang secara berurutan meliputi kegiatan:

a.        Perumusan tujuan
b.        Perencanaan program kerja
c.        Penetapan tugas pokok
d.        Perincian kegiatan
e.        Pengelompokan kegiatan dalam fungsi-fungsi
f.         Penetapan prosedur dan metode kerja
g.        Pelimpahan wewenang atau pendelegasian wewenang
h.        Rekrutmen dan penempatan orang-orang pada satuan-satuan organisasi
i.          Pemberian Fasilitas kerja dan peralatan
j.         Pengaturan system komunikasi

Untuk pencapaian tujuan, semua proses ditetapkan sebagai acuan tertulis yang secara logis mencerminkan kejelasan hak dan kewajiban masing-masing. Selain unsur-unsur di atas, pengurus mengenali golongan dan type organisasi agar garis wewenang, komando dan jalur komunikasi lebih jelas. Dengan demikian penjabaran tujuan primer organisasi ke dalam bentuk sekunder (konkrit) tercermin dalam uraian teknis proses-proses organisasi dari “a”  sampai dengan “j”, realisasinya berupa system administrasi dan manajemen.

2.           Administrasi dan Manajemen
Pengertian administrasi dalam arti luas adalah kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk menjamin berputarnya roda organisasi agar tujuannya tercapai. Untuk menerapkan administrasi diperlukan dua tahapan penting, yaitu;
a.        Tahap Politis
Yaitu upaya pensosialisasian rencana (Publik Administrasi)
b.        Tahap Yuridis
Yaitu tahap merubah atau menetapkan ketentuan-ketentuan hukum atau peraturan administrasi organisasi. Untuk mewujudkannya diperlukan langkah evaluasi dengan tujuan agar diperoleh efesiensi dalam penyusunannya. Langkah berukutnya, perlu adanya pelatihan secara sentral dan intensif. Pelatihan yang terpusat dan intensif berperan penting agar semua jajaran pengurus dapat menerima dan memahami system administrasi yang telah ditetapkan.

Dengan demikian, administrasi juga dapat diartikan, suatu proses yang disalurkan menurut saluran-saluran tertentu dengan menggunakan dasar tertentu yang mempunyai kekuatan mengikat sehingga dapat mencapai tujuan tertentu.
Saluran-saluran ini umumnya disebut organisasi, sedangkan pembinaan dan penyalurannya dilakukan melalui berbagai bentuk fungsi yang disebut manajemen. Fungsi yang dimaksud adalah teknis, commercial, financial, security, control dan administrative yang dibagi ke beberapa kegiatan; to plan, to organize, to command, to coordinate and to control.
Dari penjelasan  singkat mengenai administrasi, bila dihubungkan dengan organisasi dan manajemen. Administrasi adalah proses kegiatan pemikiran dan  pengaturan, sedangkan organisasi dan manajemen adalah merupakan alat pemrosesan administrasi. Melihat peranan administrasi dan manajemen, maka dengan tingkatan masing-masing pengurus perlu memiliki keterampilan administrasi dan manajemen maupun keterampilan teknis.

3.           Teknik-Teknik Manajemen
Pada saat penetapan teknik manajemen, hendaknya di arahkan terhadap kemampuan dalam pelaksanaan tugas sehari-hari, meliputi teknik-teknik sebagai berikut:

a.    Organisasi dan metode;
b.    Sistem perencanaan, pembuatan program dan anggaran;
c.    Sistem manajemen  informasi;
d.    Sistem riset operasional;
e.    Analisa Sistem;
f.     Teknik-teknik perencanaan;
g.    Teknik pengambilan keputusan;
h.    Statistik;
i.      Sistem kearsipan;
j.     Sistem administrasi keuangan;
k.    Sistem administrasi kepegawaian dan gaji;
l.      Administrasi material/logistic;
m.  Adminstrasi perkantoran;
n.    Ketatusahaan dll.

Seperti dijelaskan sebelumnya, untuk memulai sesuatu yang professional diperlukan kesamaan persepsi dan orientasi, baik pada tingkat filosofis maupun pada tingkat kesepakatan dan ketetapan pada tahap teknis aplikasi. Melalui tulisan ini, diharapkan adanya pemahaman dan kesamaan persepsi sehingga ketetapan organisasi yang nantinya dapat menjadi prosedur atau acuan kerja dan standar mutu organisasi menjadi lebih efektif, menjadi pekerjaan yang Insya Allah diridloi Allah SWT. Amin. (by Suryana Slamet)

 


Karawang 01 Oktober 1996
Tulisan ini disarikan dari deskripsi laporan penulis dalam tugas merumuskan pengembangan program lembaga pendidikan berkualitas terpadu. Di Ormas Islam tersebut penulis menjabat sebagai Wakil Ketua Bidang Organisasi, Koordinator Perumus Program Pendidikan Islam Terpadu.