Jumat, 14 September 2012

Pendidikan Bagi Generasi Muda

sumber gambar: doctorseducati.blogspot.com
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak (generasi) yang lemah, yang khawatir terhadap kesejahteraan mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan benar”. (QS. An-Nisaa’, ayat 9)

Dalam sejarah dikisahkan, ketika Ummu Al-Fadhl menggendong bayinya. Rasulalloh menghampirinya lalu mengambil bayi tersebut untuk digendong oleh Rasul. Bayi itu pipis (ngompol) dan seketika Ummu Al-Fadhl merengut (mengambil) bayinya dari gendongan Rasul, dengan maksud agar air seni bayi tidak mengotori pakaian Rasul. Melihat hal itu, Rasulullah menegur Ummu Al-Fadhl,

“ Sungguh jika air seni bayi mengotori pakaianku, Air dapat membersihkan atau menjernihkannya, tetapi apa yang dapat membersihkan atau menjernihkan perasaan bayi yang dikeruhkan oleh sikapmu yang kasar itu”.

Dalam proses pendidikan, Rasul tidak hanya memberi teori-teori saja, tetapi sikap dan perilakunya dalam proses pembentukan pribadi anak beliau jaga betul sejak anak masih kecil. Karena secara psikologis (kejiwaan) anak memiliki kepekaan naluri. Anak ibarat kaset yang masih kosong, apapun reaksi yang datang dari ruang lingkup sekelilingnya akan terekam dan memberi kesan tersendiri dan kelak akan mempengaruhi sikap mental serta kepribadian anak.
Mengapa anak begitu mendapat perhatian dalam pendidikan? Karena generasi muda (anak) adalah amanah Allah. Anak adalah generasi yang akan melanjutkan kelangsungan sejarah peradaban manusia selaku khalifah di muka bumi.
Boleh jadi kelak generasi muda ini akan menjadi permata kehidupan dan kebanggaan orang tua, atau akan menjadi sumber malapetaka (fitnah) yang menghancurkan citra keluarganya, masyarakat bahkan negara. Sebagai orang tua tentunya mengharapkan anak-anaknya menjadi permata kehidupan, kalau bisa menjadi pahlawan yang terukir dalam tinta emas sejarah masa depan. Dalam tuntunan syariat Islam, Allah mengajarkan agar kita berdo’a  dengan penuh harapan mendapatkan anak cucu atau keturunan yang baik, sebagaimana bimbingan do’a yang difirmankan-Nya,

“Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kami Istri dan Anak cucu keturunan (zurriyat) yang menjadi cahaya mata (pendingin mata dan penyejuk hati). Dan jadikanlah kami ini Imam (pemimpin/ikutan) bagi orang-orang yang taqwa”, (QS. Al-Furqaan, ayat 74)

Maka tidaklah heran, memasuki akhir tahun ajaran dan menjelang tahun ajaran baru, orang tua yang mempunyai anak menjelang usia sekolah sibuk mencari sekolah yang baik bagi pendidikan anaknya. Bagi anak yang baru menyelesaikan pendidikan di tingkat SLTP sibuk mencari sekolah SLTA idamannya, begitupun yang baru menyelesaikan ujian ahir SLTA sibuk mempersiapkan diri untuk mengikut sertakan anaknya dalam kompetisi (persaingan) akbar, supaya dapat memperoleh kursi perguruan tinggi negeri melalui UMPTN atau bagi yang bermodal kuat sibuk memperjuangkan anaknya agar masuk perguruan tinggi pavorit. Dalam usaha memenuhi harapan mendapat sekolah terbaik bagi anaknya, tidak jarang praktek kolusi (penyimpangan) terjadi. Entah lewat jasa joki atau dengan cara menyuap atau titipan lewat belakang.

Menyekolahkan anak adalah wujud tanggungjawab yang mulia bagi orang tua, asal saja tidak dengan cara-cara yang menyimpang. Karena dengan demikian, berarti kita telah mewariskan sikap mental rendah dan perbuatan penyelewengan motivasi (tujuan) dari pendidikan itu sendiri. Bukankah intelektualitas diasah melalui pendidikan, agar manusia mengerti arti hidup, tugas dan kewajiban sesuai dengan ketentuan Allah SWT. Dalam konteks ini, Rasulalloh berpesan kepada generasi tua, agar membimbing generasi muda supaya mereka kuat dan tabah  lahir batin dalam menghadapi tantangan zaman yang akan datang, Rasululloh bersabda,

“ Didiklah anak - anakmu (generasi mudamu) karena mereka itu akan menghadapi suatu zaman, bukan seperti zamanmu”. (Al-Hadist)

Dengan pendidikan yang benar, kita harapkan lahir generasi muda yang kuat imannya, rela berkorban untuk kebaikan, idealis, inovatif, kreatif, berani dan sportif. Suatu generasi yang siap menyediakan dirinya untuk berjuang menjaga kehormatan keluarga, masyarakat dan bangsa dari sifat-sifat lemah (lemah imannya, lemah fisiknya, lemah ekonominya, lemah atau tertinggal sains dan teknologinya, lemah moralnya dan seterusnya).

Untuk menghasilkan generasi yang kuat dalam segala aspek kehidupannya sehingga dapat melakoni perannya dengan baik. Berikut adalah beberapa cara   yang dicontohkan Rasulalloh SAW dalam pola pendidikan, yaitu,

1.         Menanamkan Aqidah Islamiyah dengan baik dan benar. Itulah ketika bayi baru lahir diperintahkan untuk mengumandangkan adzan pada telinga kanan dan iqomat pada telinga kiri bayi. Proses terapi awal yang mengukuhkan dan mengenalkan Aqidah Islamiyyah pada permulaan kehidupan manusia di dunia.
2.         Mengajarkan nilai-nilai yang terkadung dalam AlQur’an, agar mereka mampu menjadikan Al-qur’an sebagai pedoman hidup (Way of Life) hingga tertanam Aqidah yang kuat, dapat melakukan ibadah dengan benar dan hidup sesuai dengan ketentuan Allah SWT.  Aisyah Ra berkata, “ Budi Pekerti Rasulullah adalah Al-Qur’an”. (HR. An Nasa’i).
3.         Membimbing generasi muda dalam pengamalan nilai-nilai Islam melalui keteladannan atau contoh langsung dari Orang Tua.

Dalam ceramah ilmiahnya, Prof. DR. Mahmuddin Suddin menjelaskan bahwa, ada empat lembaga yang harus bertanggungjawab dalam pendidikan generasi muda, termasuk tanggungjawab memberikan contoh  keteladanan. Ke-empat lembaga itu adalah; Pertama, lembaga keluarga (terutama kedua orang tua). Kedua, lembaga masyarakat atau lingkungan. Ketiga, lembaga pendidikan. Dan ke-empat, lembaga pemerintah sebagai pemimpin dan pemegang otoritas kebijakan umum dalam sistem pendidikan.
Kepedulian, tanggungjawab dan keteladanan empat lembaga di atas-lah yang turut mempengaruhi terwujud atau tidaknya proses pendidikan yang baik dan benar.
Pembinaan mental Aqidah dan keteladanan ini dicontohkan oleh Rasulalloh SAW sejak pendidikan di “sekolah” Rasulalloh di Darul Arqom sampai dengan pengamalan dalam kehidupan sehari-hari Rasulalloh SAW. Beliau (Muhammad SAW) adalah figur teladan bagi ummat sepanjang massa. Segala ucapan, perbuatan, dan sikapnya merupakan pengejawantahan (perwujudan)  dari nilai-nilai yang terjandung dalam Al-Qur’an. Keteladan Rasulalloh Muhammad SAW meliputi segala aspek. Teladan dalam kepemimpinan, teladan dalam kehidupan rumah tangga, teladan dalam berniaga (bisnis), teladan dalam pengajaran (pakar pendidikan) dan teladan dalam segala hal kehidupan sosial kemasyarakatan. Maka, sudah sepantasnyalah kita sebagai ummat Islam meneladani cara-cara atau metodologi Rasullah dalam membimbing dan memberi pembelajaran bagi generasi muda.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasululloh itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (Rahmat) Allah SWT dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Alloh SWT” (QS. Al-Ahzab ayat 21)
 
Copyright @2006
Oleh Suryana Slamet
Bulletin Jum’at
Serial Bacaan Islami “Ulul Albab”
No. 004/Th I Juni 1994 - Dzulhijah 1414 H