Selasa, 06 Maret 2012

Doa Mustajab Kaum Tertindas

Oleh : Suryana Slamet
Dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, Kita sebagai Hamba Allah, berperan menjalankan fungsinya sebagai Kholifah di muka bumi. Baik sebagai pribadi, sebagai kepala Rumah Tangga, sebagai karyawan, sebagai pimpinan perusahaan, sebagai penyelengara pemerintahan, pengusaha dan lain sebagainya. Kewajiban kita dalam menjalankan fungsi tersebut adalah, menyempurnakan ikhtiar sesuai dengan kewajiban profesinya masing- masing, sesuai dengan tatanan sosial, kepatutan moral dan hukum yang berlaku.

Dalam menjalankan fungsi tugasnya sebagai khalifah, terutama di masa krisis multidimensi yang berkepanjangan ini, terdapat proses inter aksi sosial yang terkadang tidak sesuai dengan pakem kehidupan, dengan etika pranata sosial dan ketentuan hukum, baik hukum positif kenegaraan maupun hukum Islam. Saling jegal,  saling sikut, injak bawah jilat atas, sodok kanan jegal kiri sering terjadi,  semata mata hanya untuk meraih ambisi pribadi, tanpa peduli kawan ataupun saudara. Banyak kejadian, dimana orang yang kita anggap teman usaha, teman politik, teman berorganisasi, kenyataannya penghianat yang tega “menikam” kita dari belakang (dalam kisah romawi yang ditulis Wiliam Shakerpare tokoh penghianat seperti ini diperankan oleh seorang bernama “Brutus”). Demikian halnya dengan gerakan moral yang diteriakkan LSM pasca Reformasi, tidak sedikit dari mereka pahlawan kesiangan yang ujung-ujungnya menjadikan LSM-nya sebagai sarana untuk “usaha”. Kasus - kasus penyimpangan dijadikan komoditi untuk sekedar mendapat jatah dari uang hasil penyelewengan. Bahkan ada juga LSM spesialis proyek demo, gejala sosial yang faradoks ini, sebenarnya menghambat proses reformasi.



Bahkan tidak sedikit yang menggunakan instrumen agama sebagai tameng. Agama dikemas sedemikian rupa, melalui pendekatan dan kata-kata ofortunis yang dibubuhi dalil, agama  digunakan untuk dieksfloitasi demi memenuhi kecintaannya kepada dunia. Mereka lupa agama sering menjadi redup nilai pamornya karena perilaku munafik pemeluknya, terutama yang bertitel “ustadz”, “kyai” atau “ulama” yang mengusung agama untuk memenuhi ambisi dunianya. Sejarah memperlihatkan kepada kita sebagai pelajaran, banyak bangunan Negara runtuh karena pemerintah atau penguasanya didukung oleh kekuatan perusak seperti Hamman dari kelompok Teknokrat, Qarun mewakili konglomerat, Bal’am bin Ba’urah dari majelis ulama dan tentara. Kelompok ini banyak kita temukan di abad modern ini.

Fenomena sosial kehidupan seperti itu, sudah menjadi pemandangan umum dalam berbagai asfek kehidupan kita. Semua perilaku kehidupan seperti yang diuraikan di atas, mencerminkan betapa kuatnya kecintaan manusia terhadap kehidupan dunia, hingga kekuatan itu mampu menjungkirbalikan akal sehat. Dalam usahanya mencapai kenikmatan dunia, mereka melupakan nilai-nilai moral dan spiritual, mereka cenderung menempuh jalan pintas, mereka cinta dunia dan takut kematian, “hubbuddunya wakaroohiyatul akhirot”. Artinya, “Cinta Dunia dan takut mati”.

Gambaran itu juga dilukiskan dalam sebuah hadist Rasul, Artinya:

“Akan datang suatu masa pada umatKu, mereka mencintai lima perkara dan melupakan lima perkara yang lain: 1). Mereka mencintai dunia tetapi melupakan akherat, 2). Mereka mencintai harta tetapi melupakan perhitungannya, 3). Mereka mencintai makhluk (ciptaan Allah) namun melupakan Penciptanya, 4). Mereka Gemar melakukan perbuatan dosa namun melupakan taubat, 5). Mereka mencintai gedung - gedung megah namun melupakan kubur (tempat peristirahatan terahirnya)”.
         
Akibat persaingan hidup yang tidak sehat tersebut, tidak sedikit mereka, saudara – saudara kita, bahkan mungkin kita sendiri,  menjadi korban yang tertindas, teraniaya oleh keserakahan dan ambisi yang tidah didasari oleh keimanan.        

Jikalau kita atau saudara kita, masyarakat kita, menjadi bagian dari Kaum yang tertindas karena keserakahan saudara kita yang lupa, maka tidak ada tempat yang paling tepat untuk berlindung, kecuali Allah Yang Maha pengasih lagi Penyayang. Allah-lah pembela sejati bagi kaum yang tertindas. Allah-lah tempat bermohon bagi hamba yang tertindas, sebagaimana Firman Allah dalam Alqur’an Surat  Al-Hajj,  Ayat 78, Yang artinya:  

Dialah (Allah) adalah Pelindungmu. Maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baiknya Penolong”.

Bukti keberpihakan Allah kepada kaum yang tertindas bisa dilihat dalam kisah yang diabadikan Alqur’an, Pada jaman Nabi Musa, Raja Fira’un yang menganiaya pengikut Nabi Musa dan berusaha membunuh Nabi Musa, begitu juga Raja Namruz yang hendak membakar Nabi Ibrahim karena menentang tuhan-tuhan yang disembah oleh Raja Namruz dan rakyatnya, mereka ahirnya dibinasakan Allah. Allah Yang Maha Perkasa akan menolong mereka yang teraniaya dan tertindas.

Karena Allah pembela kaum yang teraniaya, maka Allah memberi keistimewaan dengan prioritas utama akan didengar dan dikabulkannya do’a orang-orang teraniaya, sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadist nabi, yang artinya;

“Hindarkan dirimu dari do'anya orang-orang yang teraniaya, karena sesungguhnya doa mereka itu akan terangkat ke atas awan ( dikabulkan Allah). Maka Allah bersabda: Demi kehormatan dan keagunganKu, sungguh Aku akan menolongmu meskipun setelah beberapa waktu”.

Sebaliknya, bagi saudara kita yang lupa, yang terbius oleh ambisi keserakahan, hendaknya menyadari, bahwa apa yang dilakukannya, sesungguhnya  adalah dosa dan bahaya yang dapat mencelakakan dirinya sendiri. Kita boleh merasa pintar, merasa kuasa, merasa hebat, sehingga dengan kepintaran kita, dengan jabatan kekuasaan kita dan dengan kehebatan kita. Kita merampas, menipu, memutar balik fakta dan atau mendzolimi  saudara kita, rekan kita, kolega kita, akan tetapi ingatlah! Allah Maha Pintar, Maha Kuasa, Maha Hebat, kita mendzolimi yang lain dengan mengambil hak orang lain dengan kepintaran kita, dengan kekuasaan jabatan kita dan dengan kehebatan diri kita, maka Allah SWT akan mengambil kembali hak orang lain yang kita ambil dengan cara yang salah itu, dengan cara Allah sendiri.

Apa artinya kita menumpuk kekayaan melalui jalan yang salah, kalau kemudian kita tidak bisa menikmatinya, karena Allah SWT telah mengambil ketentraman hidup kita, mencabut kesehatan diri kita, menjadi fitnah kehidupan keluarga kita. Uang yang banyak dari jalan salah itu, tidak bisa kita nikmati, karena Allah, kita di vonis dokter dengan penyakit diabetes, jantung, Stroke dan lain sebagainya,  sehingga kita tidak boleh makan daging, makan yang lezat-lezat, minum minuman mengandung gula dan lain sebagainya, karena penyakit yang kita derita. Kita tidak memperoleh ketentraman karena anak istri kita yang dihidupi dari harta yang salah itu, telah menjadi fitnah dalam kehidupan kita. Begitulah diantaranya cara Allah mengambil hak orang lain yang kita ambil dengan cara yang salah

Walhasil apa yang kita peroleh dari cara medzolimi saudara kita yang lain, hasilnya sesungguhnya hanya sebuah fatamorgana. Kekayaan, kekuasaan, jabatan dan keberhasilan yang semu, percayalah, hakekatnya kita sedang menipu diri sendiri.

Kesimpulan makna uraian di atas,  sebagai berikut:
  1. Orang-orang yang teraniaya tidak perlu putus asa, melainkan dengan semangat membangun kesabaran dan ketawakalan. Karena dengan kesabaran dan tawakal, Insya Allah, Ujian hidup itu akan membuahkan kemulyaan dan keberhasilan yang hakeki.
  2. Orang orang yang didzolimi, tidak perlu takut dan resah karena Allah-lah yang akan menjadi pembela dan pelindung.
  3. Dan bagi orang-orang yang berlaku Dzolim, hendaklah menyadari, bahwa apa yang kita raih dengan cara yang salah, tidak pernah menghasilkan kebahagian yang sesungguhnya, perbuatan itu akan mengundang kemurkaan Allah dengan memberi kebahagiaan palsu yang mencelakakan diri kita, dan anak istri kita.

Dengan hati yang terbuka, ada baiknya kita renungkan bersama peringatan Rasullah SAW. Artinya;

“Jauhkanlah dirimu dari perbuatan aniaya. Sesungguhnya perbuatan aniaya itu akan mengakibatkan kegelapan dihari kiamat. Dan hindarkan dirimu dari sifat kikir yang keterlaluan. Karena kebinasaan generasi sebelumnya itu disebabkan mereka memiliki sifat kikir yang keterlaluan, sehingga membawa mereka ke arah pertumpahan darah, mereka menghalalkan semua yang di haramkan”.

Dan Firman Allah, yang artinya:
“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang diberikan. Kami bukakan segala pintu kesenangan, sehingga apabila mereka bergembira ria (dengan segala nikmat) yang diberikan kepadanya, kami siksa mereka tiba tiba lantas hilang lenyaplah harapan mereka ( dan mereka tidak berkutik lagi ). Maka dihancur binasakanlah orang-orang yang zalim itu. Segala puji bagi Allah Rabbul Alamin” (QS.Al An’am, ayat 44-45).

   Karawang, 2004 
Suryana Slamet