Kamis, 02 Februari 2012

PEMIMPIN YANG TERHORMAT…?


“Dibutuhkan Pemimpin yang memperhatikan dirinya
sebagai Part of The Solution
dan bukan merupakan Part of The Problem.
 Dalam mewujudkan pembangunan tidak cukup
 dengan berbagai statement dan retorika”.
(Miriam Budiardjo)

BukuClick/suryana/2012
Mengapa saya harus membuat “Tulisan” buat pemimpin kita? Surat terbuka ini terinspirasi dari persoalan yang di hadapi daerah saya dengan pemimpin daerah yang baru terpilih ahir 2010. Seiring dengan adanya reformasi, patah tumbuh hilang berganti mewarnai dinamika pemimpin-pemimpin di tanah air Indonesia tercinta. Rakyat sudah menjalani 21 tahun Orde Lama, 32 tahun Orde Baru dan 13 tahun Orde Reformasi.
Tulisan ini dibuat sebagai bentuk kritik atau otokritik bagi kita semua. Sebagai anak bangsa, seyogyanya semua komponen masyarakat kembali bersatu untuk membangun Republik Indonesia yang kita cintai ini. Ketika perhelatan politik demokrasi (Pilpres, Pileg dan Pemilukada) telah usai dan rakyat telah menentukan pilihannya sesuai hati nurani, hendaknya semua komponen bangsa menanggalkan warna politik dan sentiment persaingan saat pesta demokrasi berlangsung.

Kenyataan yang kita rasakan, kita menjadi sering “terusik” melihat konflik pasca pesta demokrasi, mendengar obrolan politik kiri kanan yang mengarah kepada figure dan kinerja pemimpin-pemimpin yang telah menerima amanah rakyat. Bukankah kita seharusnya kembali bersatu membangun untuk rakyat dan kalau ada sesuatu yang dianggap kurang, sebaiknya diingatkan baik-baik atau jika mungkin dibantu solusinya melalui saluran aspirasi konstitusional yang elegan dan santun.

Kenapa ketika pemimpin kita dinilai lemah, lambat atau gagal lantas menjadi objek rumor, opini, cacian, hujatan dan aksi yang mengarah pada manuver politik menuju ke arah perebutan kekuasaan?. Tidakkah kita menyadari, bahwa rakyat sudah kelelahan melihatnya dan menjadi korban perebutan kekuasaan elit politik hampir di semua level politik negeri ini. Belum lagi krisis multidimensi akibat negeri yang salah urus, sudah sedemikian menyengsarakan rakyat. Lalu, mengapa perilaku social rakyat kepada pemimpinnya menjadi kritis dan “tidak bersahabat dengan pemimpin yang dipilihnya sendiri? Lebih parah lagi, keadaan yang paradok itu dimanfaatkan oleh petualang politik yang bermental mafia yang memancing di air keruh untuk memenuhi nafsu kekuasaannya.

Dan pertanyaan juga untuk politisi mafia. Kenapa kekurangan pemimpin kita selalu menjadi amunisi dan komoditi politik kepentingan. Konon katanya, pemimpin kita lemah, lambat  dan gagal dalam banyak hal dan seterusnya. Kita juga sering menjumpai, pemimpin nasional maupun daerah  yang baru dipilih rakyatnya, belum genap seratus hari sudah menjadi target politik lawanya dengan rumor yang bernada menakar daya tahan pemimpin baru itu. Nada sinispun menjadi opini yang menyebar sampai ke warung kopi dan pekerja jasa ojek. Macam-macam prediksi sinis menjadi obrolan yang bernada meragukan kemampuan yang sudah dipilih rakyat.  Banyak demo yang menyindir dengan berbagai symbol bernada “menghina”. Mahasiswa, Akademisi, Pengamat sibuk menilai kinerja pemimpin dan mengukur daya tahan pemimpin dengan berbagai prediksi serta argumentasinya. Bahkan ada yang mengamati para pemimpin bak  para peramal.  Mungkin mereka ingin populer seperti mendiang Mama Lauren atau serius dengan maksud tertentu?. Hanya Allah Yang Maha Mengetahui. Yang pasti, rakyat sudah jenuh dengan semua itu.

Pertanyaannya, Kenapa pake diramal dan ditakar segala? Kenapa yang katanya ingin membangun, kritiknya tidak membangun dan harus dalam bentuk “ancaman”, “hinaan” dan “pelecehan”. Tidakkah sebaiknya kritik itu dilakukan dengan cara-cara yang santun, dengan bingkai kebersamaan, persatuan dan pembangunan untuk rakyat. Mengapa sebelum mengkritisi dengan maksud tertentu, tidak disertai dengan otokritik yang jujur pada diri kita masing-masing, apalagi, khususnya bagi elit yang pernah ada dalam lingkaran kekuasaan atau bahkan pernah berada dipuncak kekuasaan.

Sekarang mari kita lakukan introsfeksi, jujurkah kita mengkritisi pemimpin-pemimpin kita. Apakah untuk keberlangsungan pembangunan, dan untuk rakyat yang sudah terlalu lama menderita atau untuk ambisi kekuasaan kita dan kelompok kita sendiri yang ingin kembali berkuasa dengan tidak sabar menunggu periode proses demokrasi berikutnya?. 

Mengapa rakyat selalu menjadi objek dan alat kepentingan politik para elit. Kritik, koreksi atau apapun namanya memang perlu dan itu bagian dari dinamika demokrasi. Oleh karenanya, agar demokrasi menjadi stimulus yang sehat dan produktif sebaiknya disajikan dengan cara-cara yang santun, dikemas dalam perspektif kebersamaan, persatuan dan pembangunan untuk rakyat, titik.

Begitu juga dengan pemimpin kita yang dikritisi dengan berbagai cara, gaya dan metode. Tidak perlu marah apalagi menggunakan kekuasaan “menghabisi” pihak-pihak yang mengoreksi kinerja kita, karena pemimpin menilai mereka sebagai  musuh berbahaya yang merongrong kekuasaan yang sedang ada dalam genggaman. Tidak ada salahnya kita coba menelaah kritik, opini, rumor dan ramalan itu. Dengan kejernihan hati dan pikiran, tanyakan pada nurani kita, jika kritik dan koreksi mereka benar, tanggapi dan selesaikan dengan bijak. Jika memang tidak mampu jangan memaksakan diri, mundur saja. Karena itu lebih terhormat.

Dilihat dari konstelasi politik yang berkembang. Kalaupun ada motivasi yang melatarbelakangi berkembangnya kritik yang disertai rumor sinis atau bisa dikatakan ramalan yang bernada “ancaman”. Jika kita tahu itu semua manuver politik, maka itu bagian dari intrik lawan politik pemimpin yang sedang berkuasa. Biarkan rakyat menilai mana yang berbuat demi rakyat, mana yang berbuat demi diri dan kelompoknya sendiri. Biarkan siklus demokrasi menghakiminya.  Jadi, lebih baik sama-sama berpolitik di koridor aturan yang telah disepakati. Gak usahlah pake cara-cara yang kotor. Kalaupun di negeri ini ada politisi seperti itu, maka bisa dikatakan politisi itu belum dewasa dalam berpolitik. Atau politisi kita sudah menjadi penganut panatik politik oposisi yang bermazhab paham politik menghalalkan segala cara.

Jika demikian sikap para elit negeri ini, baik yang ada dalam lingkaran kekuasaan maupun yang di luar lingkaran kekuasaan, maka jelaslah, bahwa negeri ini sedang dalam kancah perebutan kepentingan elit untuk kekuasaan masing-masing dan bukan sedang membangun untuk kesejahteraan rakyatnya. Ternyata negeri ini juga krisis pemimpin negarawan, pemimpin yang berbuat dan bertindak untuk negara dan bangsa, bukan untuk kepentingan pribadi, golongan dan kelompoknya sendiri.

Jika itu masalahnya, malang nian nasib rakyat Indonesia, rakyat yang sudah lelah menderita selama 350 tahun dalam penjajahan fisik Belanda, 3,5 Tahun dijajah Jepang. Kini setelah merdeka, sudah 66 tahun rakyat harus juga menderita karena “dijajah” oleh bangsanya sendiri. Entah sampai kapan rakyat harus tetap menerima kenyataan pil pahit, bahwa di negeri yang kaya sumber daya alam ini, kemakmuran negeri ini, ternyata masih menjadi mimpi yang entah kapan dapat terwujud. Atau tetap hanya dalam mimpi hingga azab dan murka Sang Maha Pencipta menenggelamkan negeri ini. Seperti tenggelamnya bangsa-bangsa dijaman dahulu.

Untuk para pemimpin kita, lepas dari apakah itu kritik, (membangun/merusak) rumor, nada sinis atau ancaman serius dari lawan politik. Apapun motifnya, tidak ada salahnya kalau hal hal demikian menjadi peringatan sekaligus cambuk buat pemimpin kita. Tentunya agar menjadi motivasi untuk berusaha keras memenuhi harapan rakyat. Jawab kritik dengan kinerja. Biarkan rakyat yang menilai.

Untuk mengukur keberhasilan program seorang pemimpin, diperlukan multipiranti agar bisa dipahami oleh rakyat. Sejauh mana efektif tidaknya piranti-piranti ini pula-lah yang juga menentukan derajat keberhasilan seorang pemimpin. 

Sebagai misal, rakyat cenderung gelisah dan mudah terprovokasi oleh keadaan yang berurusan dengan kebutuhan ekonomi. Menyikapi keadaan demikian, pemimpin harus memiliki rasa kepekaan terhadap fenomena social yang berurusan dengan masalah yang sensitive public tersebut. Cepat tanggap, komunikatif dan rasional disertai solusi dalam bentuk tindakan nyata sesuai harapan rakyat dan bukan hanya retorika. Reda tidaknya gejolak social sebagai reaksi social rakyat yang merasa terancam kebutuhan dasarnya. Apakah kondisi itu memicu konflik social atau tidak, (meskipun konflik itu ada pihak ketiga yang memprovokasi). Semua hasil ahir dari kondisi tersebut menjadi indicator berhasil tidaknya pemimpin mengkomunikasikan persoalan tersebut untuk dapat dipahami oleh rakyat, ada tindakan nyata yang rasional sesuai keinginan rakyat, kemudian menjadikan rakyat tetap tenang, tidak mudah terprovokasi. Maka kebijakan dan komunikasi public dimaksud menjadi salah satu piranti yang kemudian menjadi indicator berhasil tidaknya penyelenggara Negara atau pemimpin mengatasai persoalan.

Tensi politik cenderung naik  disebabkan oleh kurang efektifnya piranti komunikasi. Tidak efektifnya komunikasi politik dengan rakyat, menyebabkan rakyat menjadi semakin tidak mengerti kenapa keadaan cenderung belum berubah ke arah yang lebih baik. Kenapa masalah yang menyangkut kebutuhan dasar hidup rakyat misalnya ganti rugi tanah dan rumah untuk kasus lumpur Lapindo tidak secepatnya selesai. Sengketa lahan yang memicu konflik horizontal dan memakan korban seperti yang terjadi di Mesuji dan Bima.  Di lain pihak rakyat juga tahu, triliunan kumulasi uang Negara dijarah koruptor. Rakyat melihat triliunan nilai kekayayaan hutan dan laut setiap tahun dijarah. Rakyat merasakan hukum yang tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Rakyat juga tahu, ratusan triliun uang negara dipake menutupi bank yang bangkrut sementara jutaan pengusaha kecil sulit mendapatkan modal dan gulung tikar. Sikap dan Penyelesaian masalah yang melawan arus logika sederhana rakyat itulah yang dapat memicu antipati rakyat.

Lambatnya laju penyelesaian masalah, dibanding dengan laju masalah yang terus bertumbuh dewasa ini menyebabkan rakyat semakin menderita. Rakyat harus diajak komunikasi dengan multipiranti yang tepat, pendekatan yang rasional dan tentunya melalui sentuhan rasa dan kearifan lokal.  Pemahaman tentang persolan bangsa tidak hanya monopoli perdebatan komunitas pemikir, pengamat dan politisi dengan bahasa yang rumit dan sulit dipahami wong cilik. Rakyatpun perlu dilibatkan, perlu diajak paham sesuai dengan kesederhanaan logikanya, agar dengan pemahaman yang benar, mendorong rakyat untuk terlibat aktif menjadi bagian dari komponen pelaku pembangunan dan mengerti tentang persoalan-persoalan yang terjadi.

Kegagalan dalam mengelola komunikasi politik disamping lambatnya penyelesaian masalah krusial yang sensitive publik, cenderung membuat persoalan bergulir menjadi bola panas. Kemudian ditingkahi oleh politisi berkelas mafia yang memanfaatkan situasi, mengkritisi yang konon atas nama rakyat justru malah membuat persoalan yang sebenarnya dapat disederhanakan dan diatasi dengan cepat, berubah menjadi bola api yang berujung pada semakin sengsaranya rakyat. 

Tanpa bermaksud menggurui siapapun, menurut saya, tidak ada salahnya pemimpin kita mengingat kembali semua komitmen yang dimuat dalam visi, misi dan isi kampanyenya ketika menjadi calon dipesta demokrasi hingga dipilih rakyat. Apakah sudah melangkah sesuai visi, misi dan janji politik saat kampanye?

Books About Indonesia
















Lihat : Leadership Books

Link terkait:
Dosa Mustajab Kaum Tertindas 
 Motivasi Dan Kepemimpinan
Kepemimpinan dan Perilaku Manusia

Yours sincerely
You certainly know more about Amazon, you indirectly help us if you buy anything through BukuClick:


Thank you for your attention and thank you if you tell or share information with your friends
Friendly
greetings from me
Admin BukuClick

Kindle

$ 79.00
$ 99.00
$ 199.00
$ 139.00
$ 149.00
$ 379.00
$ 49.99