Minggu, 03 Oktober 2010

Manajemen Kepemimpinan

MANAJEMEN KEPEMIMPINAN DAKWAH
Oleh Suryana Slamet

Untuk memahami konteks dakwah secara integral sehingga diharapkan dapat memahami posisinya sebagai pengemban amanah dakwah dalam arti khusus (dalam arti umum pada dasarnya setiap pribadi muslim memikul kewajiban dakwah), maka seorang da’i harus menguasai dan memahami pokok-pokok pikiran atau esensi dari sumber ajaran Islam, yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadist. Dengan perkembangan teknologi media saat ini, tidak ada alasan untuk mengatakan sulit mempelajari sumber sumber dimaksud.
Selain kedua sumber utama, realitas sejarah dan pemikiran ulama pasca kerasulan hingga kini, dapat dijadikan nara sumber komparatif termasuk adanya penomena pemikiran konservatif dan dinamika pemikiran yang progresif. Karena sejarah adalah kehendak alam, artinya Sunatullah, begitu juga pemikiran ulama dari jaman ke jaman.
Berhubungan dengan tinjauan sejarah masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia, para da’i dituntut senantiasa menganalisa secara kritis, terutama analisa metodologis dan sosiologis-antropologis pra masuknya Islam dan setelah masuknya Islam di Indonesia. Pendekatan metodologi kekeluarga dengan semangat toleransi yang tinggi menjadi pola umum para da’i zaman dahulu dalam menyebarkan ajaran Islam di Indonesia. Sementara budaya animisme dan paham Hindu-Budaisme sudah menjadi mental spiritual yang mengakar dan dianut oleh orang Indonesia.
Dari awal pemahaman seperti di atas, diharapkan para da’i mampu merumuskan kebijakan dakwah secara efektif, strategis dan akomodatif. Selain perlu adanya pemahaman sosiokultural yang melatarbelakangi mental spiritual bangsa Indonesia, seorang da’i perlu melatih sikap mental dengan kemampuan berpikir general, sehingga karakteristik seorang da’i dapat memenuhi criteria di bawah ini;

1. Professional dan komunikatif (QS. 16: Ayat 125-126);
2. Memiliki loyalitas dan dedikasi yang tinggi;
3. Istiqomah dan Kreatif;
4. Mempunyai visi ke depan dengan garis strategi yang mantap;
5. Memiliki perencanaan yang terukur dan multidimensional;
6. Memahami prinsif-prinsif kerja keorganisasian hingga ke tahap teknis operasional;
7. Disertai keteladanan secara simultan;
8. Menghindari pandangan pemikiran dan sikap yang dikotomis;
9. Islam ditawarkan sebagai kebutuhan dan bukan beban (QS. 2 : ayat 208; QS. 4 : ayat 125 dan QS. 6 : ayat 162).

Dari delapan kriteria tersebut, diharapkan para da’i dapat menjalankan tugas dakwah secara benar (artinya sesuai dengan tali Allah dan kondisional, yang adalah merupakan formula yang korelatif).
Dengan demikian, sumber daya yang ada, dapat difungsigunakan secara optimal sesuai dengan kebutuhan yang riil sehingga berakibat terbentuknya citra positif. Dengan memenuhi criteria dakwah sebagaimana dijelaskan di atas, Insya Allah eksistensi keislaman yang selama ini memudar oleh adanya atribut keterbelakangan, kebodohan dan kemiskinan perlahan dapat dipupus.
Untuk memfungsikan dakwah yang multidimensi, da’i hendaknya selain mengembangkan metode normative vertical dalam dimensi ritual, juga menggali sumber-sumber yang berdimensi horizontal, yaitu;

1. Sumber Daya Insani (QS. 49 : ayat 15)
Karena selama ini fakta membuktikan, bahwa umat Islam belum sepenuhnya menangkat isyarat yang terkandung dalam QS. 95 : ayat 6 dan QS. 28 : ayat 54. Suatu masalah yang perlu diperhatikan adalah lembaga keluarga sebagai basis awal pembangunan mental generasi, lihat QS. 6 : ayat 151 dan UU No. 2 Tahun 1989.
2. Sumber Daya Ekonomi (QS. 11 : ayat 61, QS. 2 : ayat 275).
Masalah yang perlu dilihat, adanya dikotomi yang berakibat langsung terjadinya kemiskinan motivasi bahkan phobia. Padahal sector ekonomi memiliki peranan penting dalam pemetaan dakwah. Dari kesadaran kolektif yang dibentuk terhadap pentingnya kekuatan ekonomi, umat Islam diharapkan dapat membangun struktur ekonomi yang kuat dan mendukung aktivitas dakwah. Hal yang dapat dikaji dalam masalah ini dapat dilihat dalam QS. 2 : ayat 127, QS. 6 : ayat 141, QS. 9 : ayat 60, yang menjelaskan tentang kefakiran dan QS. 2 : ayat 268, QS. 17 : ayat 31, QS. 107 : ayat 3, yang menjelaskan tentang kemiskinan.
3. Sumber Daya Informasi
Media informasi yang dimiliki oleh umat Islam masih sangat sedikit, yakni 7,27 % dari 275 Pers atau 2,1 % dari 14 juta pangsa pasar media cetak. Berarti kurang lebih 20 media dengan oplag tercetak 3 juta eksemplar. Sehingga dengan ketimpangan yang demikian mencolok akan sulit mengimbangi arus budaya yang merusak. Dengan meningkatkan kepemilikan dan skil atau pengusaan teknologi media, daya jangkau dakwah dapat lebih meluas dan refresentatif sehingga berita baik dan benar dapat mempengaruhi atau merubah sikap pemikiran yang destruktif. Media cetak, media elektronik adalah salah satu model alternative yang dapat digunakan untuk berdakwah menyampaikan berita syariat. Hal tersebut ssuai dengan tugas da’i yaitu, menyampaikan Berita Benar QS. 38 : ayat 67, Berita Besar QS. 53 : ayat 59, QS. 74 : ayat 35, QS. 78 : ayat 2, dan Berita Gembira QS. 48 : ayat 8 serta mengajak umat untuk mewaspadai berita bohong QS. 24 : ayat 11-16, QS. 33 : ayat 60.
4. Sumber Daya Lembaga Pengkajian Strategis
Untuk meningkatkan kualitas pemikiran dan rasa kepedulian terhadap segala fenomena kehidupan, da’i juga dituntut terus menganalisa setiap permasalahan secara cermat, melalui lembaga-lembaga pengkajian dan forum diskusi yang membahas persoalan keumatan.
5. Sumber Daya Kepemimpinan
Pandangan yang eksklusif sering membuat pemimpin kurang memperhatikan kelicikan dalam berbagai bentuk konsfirasi yang dating dari luar. Akibatnya, pemimpin terjebak pada persoalan yang sama sekali tidak mendasar. Adanya ketidakmampuan dalam membedakan mana yang prinsif, strategic, taktik dan teknis secara menukik. Dari persoalan itu, pemimpin dimaksud mudah diadu domba dan dipecah belahkan, karena pemimpin type ini tidak teruji oleh sejarah. Untuk menghasilkan kader pemimpin yang unggul, hendaknya diperhatikan melalui system pengkaderan-pengkaderan yang terpadu dan konfrehensif edukatif sehingga usaha dakwah dapat terus ditingkatkan kualitasnya oleh penerus dakwah di masa yang akan datang.


Copy Right@2006
Disampaikan pada acara,
“Pelatihan Remaja Mesjid”
pada tanggal 16 Muharam 1416 H.