Rabu, 16 Juni 2010

Pendidikan Islam Terpadu

PENDIDIKAN ISLAM TERPADU
Bagian 1
Oleh Suryana Slamet

Salah satu diantara 10 trend perubahan dunia yang diperkirakan akan mencuat pada dasawarsa 1990-an dan mencapai puncaknya pada millennium tahun 2000, John Naisbit memprediksi adanya kebangkitan agama (the age religion). Fenomena yang ada dan kita rasakan saat ini menunjukan indikasi ke arah itu. Meskipun kondisi objektif yang dihadapi ummat Islam Indonesia masih menyisakan setumpuk masalah tentang keummatan.
Kompleksnya permasalahan ummat Islam, khususnya masyarakat Islam di Indonesia, secara histories terbentuk dari hasil proses akulturasi budaya yang terintegrasi dalam konsep pelaksanaan ibadah ghoer mahdoh atau nilai yang tertransfortasi ke dalam kekuatan budaya yang telah lebih dahulu menguat dalam dinamika dan tradisi bangsa Indonesia. Akbibatnya, upaya reformasi atau upaya pembaharuan dan pemurnian Islam mengahadapi tantangan yang berat dan memakan waktu lama, bahkan hingga kini pekerjaan itu belum selesai.
Periode kemunduran Islam terjadi sejak abad ke 13 sampai dengan abad ke 19, dimulai dengan adanya pemberatan syarat ijtihad, sehingga  secara implicit pintu ijtihad menjadi tertutup. Keadaan demikian turut andil pada terbentuknya masyarakat statis, menguatnya komunitas masyarakat taqlid, tumbuhnya masyarakat dikotomis, yaitu masyarakat yang memisahkan perkara keduniaan dan perkara agama, soal ilmu agama dan ilmu umum. Dan mengkristalnya masyarakat organisme, yaitu masyarakat yang lebih terpola oleh kaidah organisasi ketimbang oleh kaidah Al-Qur’an dan Hadist. Dampak yang muncul, melembaganya perasaan ashobiyah atau sectarian di kalangan ummat Islam. Semua problem keagamaan di atas telah mendasari gaya berpikir sebagian besar masyarakat muslim.
Dari kondisi histories yang mewarnai perilaku berpikir ummat Islam, mengakibatkan terhambatnya pemanfaatan potensi ummat dalam perannya merespon perubahan zaman. Belum optimalnya pendayagunaan ummat berdampak langsung pada adanya kenyataan rendahnya kualitas profesionalisme dan produktifitas bangsa Indonesia secara umum dan  khususnya ummat Islam Indonesia. Berdasarkan hasil riset The World Economic Forum dalam World Competitiveness report yaitu laporan tentang daya saing dunia yang dinilai dari katagori kekuatan ekonomi, keuangan, manajemen, profesionalisme dan sumber daya manusia. Indonesia menurut laporan tersebut menduduki peringkat ke 45 pada tingkat dunia dan di bawah Singapura, Malaysia, Thailand dan Filipina pada tingkat ASEAN. Dari kenyataan tersebut, pemberdayaan ummat atau sumber daya manusia menjadi kebutuhan mendasar guna mengejar ketertinggalan dalam segala lapangan kehidupan.
Selain factor histories, factor sosiologis baik sosio ekonomi maupun sosio pendidikan juga turut menyebabkan keterbatasan apresiasi ummat Islam terhadap pengertian dan fungsi organisasi kemasyarakatan (Ormas) Islam. Adanya sikap sectarian atau ego sentries suatu bukti belum adanya pemahaman secara proposional dan fungsional terhadap peran  keberadaan ormas Islam. Hal tersebut dapat dilihat dari adanya kenyataan di masyarakat,  pada intensitas tertentu masih menganggap  ormas Islam di luar tempatnya bernaung adalah sesuatu yang baru dan asing bahkan tidak jarang dipersepsikan sebagai paham atau agama baru. Fenomena ini bahkan pada beberapa masyarakat terpelajarpun masih berpengaruh, setidaknya pada persoalan ibadah dan aqidah. Ormas sering dipahami sebagai organisasi ideology sehingga bila terdapat perbedaan meskipun pada permasalahan khilafiyah pada prosesnya diyakini sebagai sesuatu yang prinsipil hingga mampu mengeroposi persatuan ummat.
Persoalan yang sebenarnya berada di wilayah khilafiyah sering diartikulasikan sebagai prinsif yang menentukan keislaman seseorang. Dampak psikologis persoalan yang tidak prinsif ini masih terasa pada tatanan kehidupan masyarakat Islam dengan skala dan intensitas tertentu. Secara umum fenomena ini masih melekat di kalangan menengah ke bawah baik secara ekonomi maupun pendidikan.
Tugas Intelektual Muslim
Pada kesempatan seminar Nasional Pendidikan, M. Syafi’i Anwar, SH menyatakan, “Jatidiri intelektual muslim ditentukan pada kemampuan untuk melaksanakan misi profetisnya. Yaitu mengupayakan agar ajaran Islam selalu actual dalam kehidupan”.
Dengan kata lain mengembangkan pemikiran dan penafsiran agar ajaran Islam selalu menjadi referensi bagi masyrakat dalam arus perubahan di tengah dinamika kehidupan yang semakin kompleks dari masa ke masa. Kenyataan objektif menunjukkan bahwa kualitas keilmuan muslim yang multidimensi dalam konteks teoritis dan teknis aplikasinya, relative masih langka. Yaitu, ilmuan seperti pada jaman keemasan Islam. Diantaranya seperti Ibnu Sina, seorang ulama yang ahli kedokteran dan tercatat dalam sejarah sebagai Bapak ilmu kedokteran dunia dan banyak lagi ilmuwan Islam berkelas dunia lainnya yang ahli keislaman juga ahli pengetahuan kauniyah secara professional terpadu. Kalangan pemikir yang ada dewasa ini belum sepenuhnya menjabarkan nilai Qauliyah dan fakta kauniyah secara integrative.
Kemunduran keilmuan ini tidak lepas dari pengaruh metode dan kebijakan di bidang pendidikan ( selain implikasi sejarah ) . Prof. Dr. Ing. Wardiman Djojonegoro menyatakan bahwa, bila dibandingkan Negara lain, termasuk ASEAN, tingkat pendidikkan bangsa Indonesia rata – rata tertinggal  15  -20 tahun .Selanjutya Mendikbud menjelaskan, bahwa Angka Partisipasi Kasar (APK) SLTP di Indonesia baru mencapai 53 % padahal angka yang sama sudah dicapai Malaysia 15 tahun yang silam, bahkan Korea Selatan sudah mencapainya sejak 20 tahun yang silam, Sementara APK SLTA di Indonesia baru mencapai 33 % angka tersebut dicapai Malaysia, Singapura, Korea Selatan dan Thailand pada 15 -20 tahun yang silam. 
 Nampakya kebijakan pemerintah juga belum banyak membantu terhadap pertumbuhan pendidikan. Pada periode 1995 anggaran untuk pendidikan sebesar 7 % dari total APBN untuk jumlah penduduk sebanyak +/- 200 juta jiwa, sementara  Malaysia mengalokasikan anggaran untuk pendidikan sebesar 12 % untuk jumlah penduduk +/- 25 juta jiwa dan Singapura menyiapkan 19 % dari APBN-nya untuk penduduk sebanyak lebih kurang 2 juta jiwa.
Dari factor metode atau system pendidikan, para pakar menilai bahwa system pendidikan yang ada kurang di-disaign ke arah yang siap pakai. Menurut Prof. DR. Ing. BJ. Habibie, “Kebijakan pendidikan kita kurang mengarah pada orientasi pasar”, atau dengan kata lain belum ada keterkaitan dan kesepadanan dengan hakekat pendidikan.
“Pada system pendidikan Islam, secara teknis, ada beberapa factor yang membuat materi pendidikan Islam sering dirasakan kurang menarik, yaitu penyajian topik-topik keislaman yang sering berulang-ulang dari jenjang pendidikan yang satu ke jenjang pendidikan berikutnya. Materi terlalu mengacu ke masa silam sehingga kurang membumi kepada persolan masa kini dan terasa kurang fungsional sebagai pedoman untuk kehidupan. Sering mengemukakan dramatisasi dan ilustrasi suatu nilai menurut pemahaman masyarakat muslim pada kurun waktu tertentu, daripada menyajikan inti ajaran Islam itu sendiri. Kurang mampu menyelaraskan konsep-konsep simbolik keagamaan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi”. (DR. Tarmizi Taher, Menteri Agama, Republika 23 Desember 1991).
Sementara itu, nuansa dikotomis masih mewarnai gaya pemikiran sebagian masyarakat terpelajar. Suatu perspektif pemikiran yang berseberangan dengan tujuan pendidikan. Setidaknya tujuan pendidikan sebagaimana diungkapkan oleh Athya El-Abrasyi yaitu, “Tujuan pendidikan Islam adalah untuk mencapai keseimbangan hidup dunia aherat, sikap ilmiah, dan mempunyai keahlian professional”. 
Melihat kenyataan menunjukan bahwa realita sejarah dan masalah kekinian yang dihadapi telah memupuk pemikiran ummat yang konstan dan sentries. Keadaan yang kompleks, khas dan berat tersebut, menjadi tugas intelektual muslim, dalam menjalankannya, diperlukan keseriusan serta pertimbangan strategis, pengorbanan dan biaya yang mahal. Untuk mencapai sasaran tersebut, diperlukan Sumber Daya Manusia berkualitas.
Begitupun bagi lembaga pendidikan yang berorientasi pada kualitas, untuk mewujudkanya  diperlukan sumber daya manusia yang berkualitas dengan keberanian investasi pada bidang pemberdayaan Sumber Daya Manusia pengelola (City Bank, Astra, Singapore Air Line menjadi yang terbaik karena berani investasi pada SDM berkualitas). termasuk perlu adanya penyelenggara pendidikan yang memiliki tekad dan keberanian menunjukkan konsep baru, sistemik yang mungkin awalnya akan terasa asing karena tidak biasa. Keberanian yang strategis dan sistemik dalam pengelolaan lembaga pendidikan tidak harus dihawatirkan tidak memperoleh apresiasi dari pengguna jasa pendidikan, karena pada kelompok social yang telah  mapan, citra dan penampilan dunia pendidikan yang bermutu sangat dibutuhkan dan dicari sebagai upaya pemenuhan obsesi pemikiran mereka yang sudah maju. Nilai tambah yang prestisius dalam hal pendidikan menjadi kebutuhan social tersendiri bagi kalangan yang telah sadar perlunya pendidikan berkualitas.
Atas pertimbangan tersebut, maka selain keberpihakan pemerintah akan pentingnya sarana dan prasarana pendidikan berkualitas, juga telah saatnya untuk  direspon oleh ormas Islam yang menyelenggarakan Pendidikan untuk mengarahkan tujuan pendidikan yang berorientasi qualitas. Respon tersebut adalah sebagai bentuk tanggungjawab bersama dan jawaban atas kebutuhan zaman yang semakin maju.
Untuk mencapai sasaran yang efektif-refresentatif dalam penyelenggaraan pendidikan yang berorientasi pada kualitas, perlu adanya penafsiran yang konprehenship dan kontektual dengan system yang mengacu pada nilai-nilai profesionalisme secara terpadu. Dari adanya kerjasama dan tanggungjawab antara pemerintah dan masyarakat yang berada dalam lembaga penyelenggara pendidikan, akan melahirkan kebijakan pendidikan pada segmen, strategi dan system yang tepat. Tentunya dengan system manajemen;  Organisasi, SDM, Administrsi dan Keuangan yang memenuhi kaidah-kaidah manajemen professional sebagaimana yang saya usulkan untuk menjadi pendoman pelaksanaan system manajemen pendidikan Islam terpadu.

 

Karawang 01 Oktober 1996
Tulisan ini disarikan dari deskripsi laporan penulis dalam tugas merumuskan pengembangan program lembaga pendidikan berkualitas terpadu. Di Ormas Islam tersebut penulis menjabat sebagai Wakil Ketua Bidang Organisasi, Koordinator Perumus Program Pendidikan Islam Terpadu.